Jumat, 29 Mei 2009

Pengembangan tenaga nulir akan membahayakan ASEAN

Greenpeace memperingatkan: Pengembangan tenaga nuklir akan membahayakan ASEAN

Manila/Jakarta/ Bangkok29 May 2009 – Greenpeace hari ini memperingatkan bahwa uji coba nuklir KoreaUtara baru-baru ini makin menegaskan hubungan berbahaya antara tenaga nuklir dan senjata nuklir, dan mendesak pemimpin-pemimpin ASEAN untuk meninggalkan ambisi nuklir mereka, atau membawa kawasan yang sebelumnya bebas dari senjata nuklir ini kepada resiko bahaya pengembangan senjata nuklir.


Desakan inimuncul di tengah-tengah kutukan dunia internasional kepada Korea Utara yang melakukan uji coba nuklir di awal pekan ini dan gelombang keprihatinan karena perkembangan ini makin memanaskan suhu konflik di kawasan ini. Menurut laporan,Korea Utara sudah mulai melakukan pemrosesan kembali tabung bahan bakar nuklir bekas untuk mengambil plutonium yang dibutuhkan untuk membuat senjata. Korea Utara punya banyak fasilitas nuklir, mulai dari rantai keseluruhan bahan bakar nuklir, termasuk fasilitas pengayaan dan pemrosesan kembali yang digunakan untuk memisahkan plutonium dari uranium yang telah terpakai.


Diperkirakan, cadangan plutonium negara ini cukup untuk memproduksi setengah lusin bom nuklir. “Tenaganuklir dan senjata nuklir adalah dua sisi pada koin yang sama. Keduanya berhubungan sangat erat dan batas yang memisahkannya sangat mudah untuk diseberangi. Pengembangan senjata menakutkan Korea Utara ini mutlak harus menjadi peringatan bagi komunitas ASEAN bahwa pengembangan tenaga nuklir akan sangat potensial memunculkan negara yang punya senjata nuklir,” ujar Tessa deRyck, Juru kampanye Nuklir Regional Asia Tenggara.


Negara-negaraASEAN memang telah melontarkan rencana ambisius untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga nuklir, dimana beberapa negara seperti Indonesia, Filipina,Thailand, Vietnam dan Myanmar secara serius sedang mempertimbangkan untuk mengoperasikan pembangkit listrik tenaga nuklir dalam waktu dekat. Padahal, 10 negara anggota ASEAN telah mendeklarasikan kawasan ini sebaga zona bebas senjata nuklir pada Bangkok Treaty 1995. Uji coba Korea Utara telahmenunjukkan, bahwa bila pembangkit tenaga nuklir sudah ada, maka akan sangat sulit membatasi pengembangan senjata nuklir.


Makinmeningkatnya cadangan plutonium yang digunakan untuk kepentingan sipil menimbulkan kekhawatiran yang makin memuncak. Pembangkit listrik tenaga nuklir standar memproduksi sekitar 20 ton limbah yang mengandung radioaktif tinggi pertahun, dimana satu persen diantaranya adalah plutonium. Mengingat bahwa hanyalima kilogram plutonium bekas reaktor sudah cukup untuk membuat satu kepala bom nuklir (bom yang digunakan untuk menghancurkan Nagasaki pada 1945 dimana 50.000orang tewas mengandung 6, 1 plutonium) maka banyaknya cadangan plutonium tentu menjadi puncak kekhawatiran.Diperkirakan,rencana pembangunan pembangkit tenaga Nuklir di seluruh negara-negara ASEANakan mampu memproduksi hingga 200 bom nuklir per tahun. Selain itu fasilitas nuklir yang memerlukan pengamanan sangat ketat akan menjadi target dari serangan grup teroris dan ekstrimis. “Uji cobasenjata nuklir Korea Utara bisa memicu dimulainya lomba mengembangkan senjata nuklir di kawasan itu, yang akan mempengaruhi Asia Tenggara juga. Ini adalah arah yang sangat berbahaya. Asia Tenggara saat ini berada dalam posisi yang strategis untuk menjadikan kawasan ini bebas tenaga nuklir, termasuk resiko keamanan dan ekonomi, disamping ancaman kemungkinan pengembangan senjatanuklir.


ASEAN harus memberi contoh dengan meninggalkan rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir, dan fokus pada efisiensi energi dan pengembangan energi terbarukan yang sudah terbukti bisa menjadi solusi,”de Ryck menutup percakapan. Greenpeace adalah organisasi kampanye global independen, yang beraksi untuk mengubah sikap dan perilaku, untuk melindungi dan melestarikan lingkungan,serta mempromosikan perdamaian.

GILA DALAM KURUNGAN

Kondisi orangutan di kebun binatang Indonesia.


Centre for Orangutan Protection (COP) mendesak Departemen Kehutanan untuk serius mengawasi pemeliharaan orangutan di kebun binatang. Desakan ini didasarkan pada hasil riset COP yang menunjukkan bahwa hampir seluruhorangutan yang berada di kebun binatang di Indonesia, saat ini beradadalam kondisi yang buruk. Para pengelola cenderung mengabaikan prinsip -prinsip kesejahteraan binatang (animal welfare) yang disepakati olehberbagai asosiasi kebun binatang seperti World Association of Zoos andAquariums (WAZA) dan Perhimpunan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI),yakni:

1. bebas dari rasa lapar dan haus.

2. bebas dari ketidaknyamanan secara fisik.

3. bebas dari luka, sakit dan penyakit.

4. bebas mengekspresikan perilaku secara normal.

5. bebas dari stress dan tekanan.

COP melakukan penilaian pada 28 orangutan di kebun binatang Surabaya,Solo, Yogya, Bandung dan Jakarta. Penilaian dilakukan hanya pada orangutanyang dipamerkan, tidak termasuk orangutan yang disembunyikan, dipakaiuntuk pertunjukan atau dalam masa karantina. COP menghabiskan 30.000 detik untuk menilai setiap individu orangutan.


Pada umumnya, kebun binatang di Indonesia masih menggunakan kandang berjeruji untuk memamerkan orangutannya kepada pengunjung. Beberapa kebun binatang telah meninggalkan gaya kandang berjeruji dan menggantikannya dengan kurungan terbuka mirip pulau (enclosure). Hampir seluruh orangutanyang dikurung dalam kandang berjeruji, kondisinya lebih burukdibandingkan yang ditempatkan di enclosure.


Mereka tidak mendapatkan aksesair untuk diminum, minim interaksi sosial dengan orangutan lainnya dankandang kosong tanpa fasilitas bermain.“Mudah untuk mengenali gejala stress pada orangutan karena mirip denganmanusia. COP mendokumentasikan berbagai gejala stress dan gila sepertimembenturkan tubuh, memuntahkan makanan dan memakannya kembali, menjilatiputing susunya sendiri, minum air kencing serta menghabiskan waktu dengan tidur dan duduk bengong tanpa ekspresi,” kata Drh. Luki Wardhani,Captivity Researcher COP.


Menurutnya, hal ini seringkali disebabkan olehburuknya kualitas hidup orangutan tersebut.“Kebun binatang sebagai lembaga konservasi ex situ sudah seharusnya memperlakukan koleksi satwa sebagai spesimen hidup yang bernilai, bukan memperlakukannya seperti sekarang ini. Kebun binatang cenderungmengeksploitasi orangutan untuk hiburan dan lelucon bagi pengunjung. ,”kata Seto Hari Wibowo, Captivity Campaign Manager COP.

Biaya hidup di Kota Jambi

Berdasarkan rumusan tertentu, Adnun telah menemukan besaran biaya hidup yang dibutuhkannya.Dear rekans, untuk anda yang tinggal di kota Jambi maka besaran biaya hidup yang anda butuhkan adalah sebesar Rp 1.114.960,- berdasarkan perhitungan berikut :UMR di Jambi X (Indeks Konjungtur di Jambi/100).Dari data Depnaker per 12/05/2009 maka rumusnya menjadi:Rp 724.000,- X (154/100) = Rp 1.114.960,-


Senin, 25 Mei 2009

Pulp giant APP set to assault Sumatra orangutan sanctuary

A massive logging operation planned by Asian Pulp and Paper and the Sinar Mas Group (APP/SMG) and associated companies is to include large portions of the only areas that Sumatran orangutans have ever successfully been re-introduced into the wild
Read the full story »

Sumber : http://www.wildlifeextra.com

Rabu, 20 Mei 2009

Pelatihan Fasilitator Pendidikan Lingkungan

Fasilitator pendidikan lingkungan memegang peranan yang penting dalam proses peningkatan kesadaran dan kepedulian publik terhadap upaya-upaya terwujudnya kelestarian lingkungan. Upaya yang terus menerus dan konsisten merupakan syarat penting bagi suksesnya upaya tersebut diatas. Namun, perlu disadari, bahwa upaya “mencetak” fasilitator pendidikan lingkungan tidaklah semudah yang dibayangkan.

Berangkat dari keinginan hal tersebut, I*ndonesia Initiative for Social Ecology Studies atau IISES *memberanikan diri untuk berbagi pengalaman proses memfasilitasi program pendidikan lingkungan dalam bentuk menyelenggarakan ”*Training Fasilitator Pendidikan Lingkungan*”. Training tersebut akan diselenggarakan dalam 2 (dua) tahap, yaitu :

Tahap I
Hari/Tanggal : Rabu, 20 Mei 2009
Waktu : 13.00 – 17.00 wib
Tempat : Kantor Lenting/IISES
Jln. Panorama Asri No. 15 Kel. Sindang Barang, Kota Bogor
Materi :
  1. Pemetaan peserta
  2. Apa itu pendidikan lingkungan?
  3. Apa itu fasilitator?
Tahap II
Hari/Tanggal : Senin, 25 Mei 2009
Waktu : 13.00 – 17.00 wib
Tempat : Kantor Lenting/IISES
Jln. Panorama Asri No. 15 Kel. Sindang Barang, Kota Bogor
Materi:
  1. Apa itu Fasilitator Lingkungan? (lanjutan)
  2. Prinsip-prinsip dalam memfasilitasi
  3. Media yang digunakan dalam memfasilitasi.
Biaya untuk masing-masing tahap sebesar Rp. 25.000. Demikian pemberitahuan ini, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
Informasi lebih lanjut silahkan menghubungi:
Wika Handini
Koordinator Pelatihan-IISES
Email : ises.indonesia; w_handini@yahoo.com
HP : 08132357080

Sumber :

Indonesian Nature Conservation newsLetter 12-19b

Minggu, 17 Mei 2009

Peta Burung Taman Nasional Baluran

Mungkin ini bisa menjadi kabar gembira bagi para pengamat burung hobiis, peneliti burung atau masyarakat umum yang suka menikmati keindahan burung di alam. Taman Nasional Baluran telah mengeluarkan Peta Burung Taman Nasional Baluran. Peta yang didesain praktis dan familiar ini diharapkan bisa membantu para birdwatcher yang ingin mengamati burung di TN Baluran, peneliti atau akademisi yang ingin melakukan penelitian tentang burung atau masyarakat umum ketika mereka memasuki kawasan TN Baluran.

Read more....

Sumber : http://balurannationalpark.web.id

Sabtu, 16 Mei 2009

Man-tiger conflict an election issue in Joynagar

Raktima Bose

KATAMARI (West Bengal): Sudhangsu Betal of this village in the Sunderbans still treasures the pugmarks of the Royal Bengal Tiger that strayed into his home a few months ago. His voice is choked for, the tiger later died in the custody of Forest department officials.

For Mr. Betal and thousands of people living in villages on the edge of the mangrove forest and co-existing with the ferocious animal for generations, the tiger is not to blame. Rather, they allege, inefficiency on the part of political leaders and corrupt practices among the forest officials were the causes for the present situation. This is a major election issue in several such villages that fall under the Joynagar (SC) constituency, which goes to the polls on Wednesday. Almost entirely dependent on forest resources for sustenance, villagers of Katamari, Deulbari, Jharkhali and Debipur say lack of development force them to infiltrate tiger territories.

Sumber : http://www.hindu.com via Milist Save The Tiger

Buku Tamu ^_^

Scan-Online File mu Sobats

 

blogger templates | JAMBI Tigers